Belajar Meditasi, Belajar Hidup: Kisah Transformasi Lewat Laku Hidup Berkesadaran

peluncuran buku belajar meditasi belajar hidup

Bagi Ay Pieta, mindfulness lebih dari sekadar gaya hidup. Pengalaman menjalankan praktik mindfulness–yang juga ia sebut sebagai laku hidup bekesadaran–telah membawanya pada sebuah transformasi, dengan cara pandang terhadap hidup yang berbeda, dan wawasan yang semakin luas.

Pengalaman autentik yang ia peroleh selama menjalankan laku hidup berkesadaran ini, menggerakkan ia menulis sebuah buku berjudul ‘Belajar Meditasi, Belajar Hidup’, yang diluncurkan pada Sabtu, 20 Desember 2025, di Menara Imperium, Jakarta Selatan. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Mahadaya, sebuah penerbit buku di Jakarta yang menerbitkan buku-buku bertema transformasi diri dan seni hidup berkesadaran. Acara launching buku dikemas dalam bentuk talk show dengan obrolan yang cair, dihadiri oleh sebanyak 86 orang peserta dari berbagai kalangan.

Lalu, apa yang menginspirasi Ay Pieta dalam menuliskan buku ini? Itu adalah sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh sang host, Lia Natalia yang juga merupakan pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya.

Ay menuturkan, kisah yang ia ceritakan dalam buku ‘Belajar Meditasi, Belajar Hidup’ bukanlah sebuah kebetulan semata. Banyak hal yang telah ia hadapi, yang membawanya ke dunia mindfulness ini, termasuk perjalanan hidupnya yang tidak mudah. Selama ini ia sangat akrab dengan dunia yoga yang tidak jauh-jauh dari dunia meditasi. Namun, ada suatu masa ia merasa bosan dengan berbagai pose yoga yang telah ia jalani dan ingin mencari sesuatu yang baru.

Pada suatu titik dalam hidupnya, ia juga tersadar bahwa sebentar lagi dua anak lelakinya akan beranjak dewasa. Mungkin mereka akan segera menemukan kehidupannya sendiri. Ia ingin anak-anaknya tinggal jauh darinya agar mereka mandiri. Mungkin akan tinggal di luar negeri. Tapi di sisi lain, ia juga ingin menikmati hidupnya tanpa harus sedih karena tinggal jauh dari anak-anak. Ia tidak ingin sakit-sakitan di hari tua dan merepotkan keluarga.  Ia kemudian merasakan dorongan untuk menemukan sebuah meditasi yang tepat. Dorongan yang mempertemukan ia dengan Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari (SKPM), sebuah sekolah yang menekankan pembangunan karakter dan laku hidup berkesadaran.

 

foto bersama di peluncuran buku belajar meditasi belajar hidup

Menemukan metode meditasi yang pas di SKPM, Ay Pieta merasakan pengalaman hidup di mana dunia terasa lebih liberal, lebih membebaskan, dan tidak terkotak-kotak. Karena itu, ia tergerak menulis untuk membagikan seluruh pengalaman meditasinya tersebut. Buku ‘Belajar Meditasi, Belajar Hidup’, dikemas dalam bentuk kumpulan artikel pendek-pendek. Yang bagi Ay, semuanya dijahit dalam sudut pandang yang lebih luas.

Pendiri Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari (SKPM) Setyo Hajar Dewantoro (SHD), turut memberi sambutan dan mengapresiasi peluncuran buku perdana Ay Pieta  ini. SHD mengakui jika Ay Pieta adalah salah seorang pembelajar meditasi di SKPM yang mengalami kemajuan pesat karena kegigihannya dalam belajar. Laku hidup berkesadaran yang dijalankan Ay Pieta, menurut SHD, telah membawanya pada sebuah transformasi dan memunculkan banyak talentanya, termasuk talenta menulis. “Dengan transformasi itu, Ay Pieta kini memiliki banyak karya. Talenta menulisnya semakin berkembang,” papar SHD.

Lalu, pelajaran apa yang ingin Ay Pieta bagikan kepada para pembaca? Ia menuturkan, dari bermeditasi ini, ia menemukan makna dari apa itu hidup berkesadaran yang seutuhnya. Ia belajar untuk menjalankan kehidupan dengan penuh rasa syukur. “Tidak harus punya kehidupan yang memenuhi standar sosial, dan tidak harus sesempurna yang selalu dipropagandakan,” Jelasnya. Bagi Ay, sebuah kehidupan, apa pun bentuknya, harus dijalankan dengan penuh rasa syukur dan bersahaja.

Ia menambahkan, dalam kehidupan, standar sosial kadang kala menuntut kita memenuhi banyak standar. Mulai dari sekolah, karier, semua harus berprestasi. Ini dianggap sebagai standar agar kita diakui sudah ‘menjadi manusia’. Sayangnya, tidak semua orang beruntung bisa memenuhi standar sosial itu. “Lalu, jika kita tidak bisa memenuhi standar sosial itu, apakah kita tidak bisa bahagia?”

Ay Pieta mengakui jika ia lahir dari keluarga yang tidak bisa membuat ia memenuhi standar-standar sosial itu. Namun, ia sadar bahwa banyak hal yang bisa ia syukuri. Ia belajar tentang sesuatu yang holistik, bahwa hidup bisa dijalani dengan kualitas terbaik, meski tidak diakui orang karena tidak memenuhi standar tertentu. “Namun minimal secara energi kita bisa memberi dampak kebahagiaan bagi sekitar,” pungkasnya.

 

Anies Syahrir

Share:

You may also like