Kemiskinan Jangan Dimuliakan Apalagi Dilestarikan

“Kemiskinan bukan untuk dimuliakan dan dilestarikan, tetapi untuk diatasi dengan kerja keras, kerja cerdas, dan pemurnian diri.  Tujuan berspiritual itu untuk mengalami hidup surgawi sejak saat ini, bukan untuk masuk surga setelah mati dengan tiket kemiskinan.”

 

Kemiskinan yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah kemiskinan material, berkenaan dengan kurangnya kemampuan memenuhi kebutuhan hidup. Di negeri seperti Indonesia, ini adalah masalah yang nyata bagi banyak orang. Jumlah manusia miskin di negeri ini banyak sekali, baik karena faktor kultural, alias memang mentalitas miskin, juga karena faktor struktural atau kebijakan yang memiskinkan. Saya sudah mengalami, menjadi orang miskin itu tidak enak. Mau bayar rumah kontrakan yang sederhana saja sulit; mau menaikkan standar hidup dengan mengontrak rumah yang lebih layak dan sehat jelas tidak mampu. Mau mengenyam pendidikan yang berkualitas jelas sulit karena umumnya mahal dan fasilitas beasiswa sangat terbatas. Belum lagi efek psikologis: jelas kurang menyenangkan menjadi orang miskin yang dipandang rendah oleh sebagian orang yang materialistis, serta susah bersosialisasi dengan mereka yang masuk kategori kaum kaya.

Maka sangat bisa dimaklumi jika siapa pun yang berada dalam jeratan kemiskinan ingin mengubah nasib. Itu cara bernalar yang wajar, tidak salah. Justru yang salah adalah ketika menghibur diri dengan ungkapan-ungkapan ilusif: orang miskin lebih banyak menghuni surga; orang miskin lebih cepat perhitungan karmanya sehingga lebih cepat masuk surga.

“Jika berbicara tentang nasib setelah kematian, sebetulnya tak ada hubungannya dengan status kaya atau miskin secara finansial, tapi sepenuhnya tergantung pada kemurnian jiwa.”

Jadi kemiskinan jangan diglorifikasi atau dimuliakan, seolah-olah itulah cara agar dicintai Tuhan. Nyatanya, Tuhan mengasihi semua keberadaan, mengasihi dengan adil baik orang kaya maupun orang miskin – maka jatah aliran napas bagi orang kaya dan miskin ya sama saja. Menjadi orang kaya dan orang miskin itu perkara karma, berkaitan dengan kerja keras, kerja cerdas, dan rajutan karma baik/buruk. Kemiskinan adalah hasil pilihan manusia sendiri; menjadi miskin adalah satu bentuk kapasitas yang merepresentasikan rajutan karma setiap orang. Ada orang-orang yang kaya sejak lahir, ini adalah hasil dari rajutan karma di kehidupan lampau. Karma baik dari kehidupan lampau orang-orang yang lahir di keluarga kaya secara umum lebih berlimpah ketimbang orang-orang yang lahir di keluarga miskin yang tinggal di kolong jembatan atau perumahan kumuh. Demikian realitas hukum sebab-akibat yang umum berlaku. Perkecualian hanya terjadi pada para Avatar yang berinkarnasi kembali, yang bisa memilih lahir di keluarga seperti apa pun demi pembelajaran jiwa di tubuh yang baru, tak tergantung pada perhitungan karma di masa lalu yang pasti penuh dengan karma baik.

 

Cuplikan buku Tetap Bahagia Meski Hidup Tidak Baik-Baik Saja, Art of Happiness Made in Indonesia

Share:

You may also like