Apakah waktu itu ilusi? Jelaslah bahwa waktu itu nyata. Yang bisa ilusif itu adalah persepsi manusia tentang waktu. Kebenaran yang tak terbantahkan tentang waktu adalah bahwa memang ada garis waktu: ada masa kini, ada masa lalu, ada masa depan. Momen kekinian jelas momen yang sangat singkat, dalam hitungan sepersekian detik ia telah menjadi masa lalu bagimu. Karena ada garis waktu maka kita diminta memberi perhatian penuh kepada momen kekinian dan meresapi setiap tarikan dan embusan nafas yang sedang berjalan secara natural. Tapi sekali lagi, dalam hitungan sepersekian detik kita telah bergerak menuju masa depan dan meninggalkan momen kekinian yang telah berubah menjadi masa lalu.
Masa lalu itu nyata: waktu di mana kita lahir sebagai bayi manusia, itu adalah masa lalu kita. Tetapi karena masa lalu, ia telah berlalu. Yang telah berlalu tidak bisa kita ubah lagi. Waktu berjalan linear; itulah kenyataannya meski ada manusia yang berspekulasi tentang perjalanan waktu sehingga bisa kembali ke masa lalu dan mengubah peristiwa yang telah terjadi. Spekulasi seperti ini sangat rumit dan pasti sulit juga dinalar: misal kita bergerak mundur ke tahun 1945. Kita ingin menyelamatkan dunia dengan mencegah perang di masa itu, yang dampaknya terus dirasakan hingga tahun 2025. Untuk membatalkan perang di masa itu, kita harus membunuh sang inisiator perang di masa itu, yang tak lain dan tak bukan adalah kakek kandung kita sendiri. Jika misimu berhasil dan kakek kita terbunuh maka ia tak sempat menikahi nenek kita. Maka perang memang tak jadi meletus. Tapi kakek dan nenek kita juga tak jadi menikah. Kalau mereka tak jadi menikah, ibu kita tak mungkin lahir. Jika ibu kita tak lahir, lalu siapa yang melahirkan kita? Kita pasti tak akan lahir juga. Jika kita tak lahir, lalu siapa yang kembali ke masa lalu untuk membunuh sang kakek? Bukankah siapa pun akan sakit kepala jika harus membenarkan perjalanan waktu ke masa lalu yang memungkinkan seseorang mengubah alur sejarah: begitu satu elemen diubah maka seluruh elemen lain akan berubah dan menjadi tak masuk akal lagi semuanya.
Masa depan juga nyata: besok, tahun depan, 100 tahun lagi, adalah masa depan jika diukur dari garis waktu yang sedang kita jalani. Karena masa depan itu ada dan nyata, kita bisa berkata, “Manusia yang hidup 300 tahun lagi, akan menganggap buku ini sebagai manuskrip kuna, dan sangat niscaya mereka menganggapnya sebagai buku suci. Tetapi sangat jelas, apa yang terjadi di masa depan belum bisa dipastikan, karena masa depan adalah garis waktu untuk segala yang mungkin terjadi, bukan pasti terjadi. Kita hanya bisa mengatakan masa depan sebagai samudra kemungkinan. Kita hanya bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Dengan segala data di masa kini dan di masa lalu kita melihat pola atau kecenderungan yang dominan sebagai dasar untuk menentukan apa yang kemungkinan besar akan terjadi di masa depan. Tapi kenyataannya, yang terjadi di masa depan belum tentu sesuai prediksi karena variabel atau faktor-faktor yang mempengaruhinya sangat dinamis.
Waktu, apalagi jika kita bicara tentang masa depan, adalah sesuatu yang dinamis bukan deterministik. Sang Hyang Hurip jelas punya rancangan agung; tetapi berdasarkan hukum kosmik-Nya, rancangan agung itu hanya terjadi ketika seluruh persyaratannya terpenuhi. Dalam dunia manusia, rancangan agung itu terpenuhi atau tidak sangat tergantung pada apa yang diputuskan dan dilakukan manusia yang memiliki kebebasan berkehendak dan kebebasan memilih dalam batasan karmanya.
Kutipan dari buku: Neng Ning Nung Nang, Filosofi Jawa yang Menjawab Keresahan Manusia Modern
Karya: Setyo Hajar Dewantoro
