Bedah Buku: Tetap Bahagia Meski Hidup Tidak Baik-Baik Saja

Pada Jumat, 11 Juli 2025 pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, Ruang Seminar Perpustakaan Pusat UGM menjadi lokasi acara bedah buku “Tetap Bahagia Meski Hidup Tidak Baik-Baik Saja”. Buku tersebut ditulis oleh Bapak Setyo Hajar Dewantoro, seorang guru meditasi atau pembimbing spiritual, entrepreneur, dan aktivis sosial politik. Selain itu, salah satu mahasiswi UGM, yakni Erma Erviana pun ikut meramaikan acara ini sebagai moderator. Acara ini menjadi wadah bagi peserta untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, merenungkan perjalanan hidup, menemukan pencerahan, dan belajar menjaga kebahagiaan di tengah cobaan

Acara dibuka dengan sambutan singkat dari Bapak Arif Surachman sebagai salah satu perwakilan dari UGM, lalu dilanjutkan sesi foto bersama. Setelah itu, MC mempersilakan moderator dan penulis untuk naik ke panggung dan diskusi pun dimulai. Pembahasan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai selingan humor yang membuat para peserta tetap antusias hingga akhir. Suasana terasa sangat hangat dan akrab, jauh dari kesan pertemuan formal. Para peserta terlihat nyaman menikmati camilan yang tersedia selagi mendengarkan.

Kebahagiaan vs. Kesenangan: Membongkar Rahasia Batin

Dalam diskusi tersebut, Bapak Setyo Hajar Dewantoro menjelaskan perbedaan mendasar antara kesenangan dan kebahagiaan. Beliau mengibaratkan kesenangan seperti ombak di permukaan laut: Muncul sesaat dan cepat menghilang, kerap kali terkait dengan keinginan atau pencapaian eksternal. Perasaan senang karena mendapat sesuatu yang diinginkan, seperti pasangan atau barang baru ini bersifat sementara. Akhirnya, mungkin hanya tersisa rasa kosong atau keinginan baru yang terus muncul. Menurut Pak Setyo, banyak orang terjebak dalam pencarian kesenangan yang tidak pernah usai ini.

Berbeda dengan kesenangan yang bersifat sementara, kebahagiaan digambarkan sebagai kondisi batin yang lebih dalam dan stabil, layaknya dasar samudra yang tenang. Kebahagiaan sejati tidak bergantung pada hal-hal materi atau pencapaian dari luar, melainkan berasal dari dalam diri. Ini meliputi mindfulness, rasa syukur, dan cara pandang yang realistis. Seseorang dapat merasakan kedamaian dan kepuasan sejati, bahkan ketika menghadapi situasi sulit atau tidak sesuai harapan. Pak Setyo menekankan bahwa seringkali orang yang memiliki segalanya justru tidak merasakan kebahagiaan sejati karena mereka salah menempatkannya pada hal-hal yang bersifat sementara. Kebahagiaan sejati tumbuh saat kita mampu bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, menerima keadaan, dan melihat setiap tantangan sebagai bagian dari proses pembelajaran diri.

Ide penulisan buku ini tidak hanya beralaskan teori, melainkan dari kisah hidup Pak Setyo sendiri. Beliau menceritakan pengalamannya menghadapi berbagai kegagalan. Alih-alih larut dalam kekecewaan, beliau memilih untuk berubah dan bertumbuh. Beliau mulai mendalami meditasi dan mengubah caranya berpikir. Fokusnya beralih dari meratapi apa yang telah hilang menjadi mensyukuri apa yang masih ada. Inilah pesan inti yang ingin ia sampaikan melalui karyanya: Bahwa kebahagiaan bukanlah takdir atau keberuntungan, melainkan sebuah pilihan sadar dari dalam diri. Kebahagiaan adalah kondisi batin yang dapat kita bangun dan jaga, terlepas dari berbagai kondisi eksternal yang seringkali di luar kendali kita.

Mengurai Benang Kegelisahan: Tanya Jawab yang Mengalirkan Pencerahan

Sesi tanya jawab menjadi bagian terseru di acara ini. Peserta berani berbagi kegelisahan dan langsung bertanya kepada Pak Setyo. Surya–salah satu peserta– bertanya tentang cara agar tidak mudah sedih berkepanjangan. Pak Setyo menjawab bahwa kuncinya adalah mindfulness. Kita perlu menyadari setiap nafas, fokus pada saat ini, dan bersyukur atas hal-hal kecil. Beliau juga menekankan akan pentingnya melepas harapan yang berlebihan karena hal tersebut sering menjadi akar kekecewaan. Lalu, Bu Yuli–peserta lain–bertanya apakah Pak Setyo sendiri pernah merasa putus asa. Pak Setyo mengaku pernah, tetapi kini perasaan itu sudah hilang. Beliau belajar melihat masalah sebagai bagian dari hidup, bukan akhir segalanya.

Kemudian, Niko–peserta lainnya–juga bertanya terkait makna “hidup tidak baik-baik saja” dalam buku ini. Pak Setyo menjawab, istilah itu merujuk pada kenyataan yang tak sesuai harapan, seperti gagal atau kehilangan orang tersayang. Secara keseluruhan, arti judul buku tersebut ialah sekalipun kondisi tak ideal, kita tetap punya kekuatan untuk memilih bahagia. Caranya dengan berpikir lebih realistis dan menerima bahwa ketidaksempurnaan itu bagian dari hidup. Ini ajakan untuk mengubah cara pandang, yang awalnya merasa menjadi korban keadaan, berubah menjadi orang yang bisa menentukan kebahagiaannya sendiri.

Pandangan dan Suara Hati Peserta

Kami berkesempatan untuk berdiskusi dengan Kak Bi, seorang peserta yang juga dikenal melalui akun Instagram @biibacain, platform yang kerap membacakan buku-buku self-improvement. Kak Bi menyatakan rasa syukurnya bisa menghadiri acara ini, mengingat topik kesehatan mental yang dibahas sangat relevan dengan minat dan kegiatannya. Ia merasa sangat sejalan dengan perspektif Pak Setyo, terutama dalam ajakan untuk tidak terjebak pada dualitas senang-kecewa, melainkan mampu mencapai pandangan yang lebih mendalam dan holistik, bahkan dengan dimensi spiritual. Menurutnya, diskusi ini memberikan pencerahan dan penguatan terhadap keyakinan pribadinya, mendorongnya untuk berfokus pada hal-hal yang sudah dimiliki dan hidup di masa kini, serta tidak terlalu memikirkan apa yang di luar kendalinya.

Sebagai seorang penyintas borderline personality disorder (BPD), Kak Bi memiliki keinginan untuk membagikan wawasan dan pencerahan yang diperolehnya. “Selain berjuang untuk diri sendiri, saya juga ingin mendampingi teman-teman lain yang dekat dengan isu kesehatan mental,” ungkapnya. Ia meyakini bahwa ilmu yang didapatkan dari Pak Setyo akan sangat bermanfaat dalam upayanya membantu orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai kebahagiaan sejati merupakan bekal berharga untuk diri sendiri dan mereka yang membutuhkan dukungan di sekitarnya.

Kisah di Balik Layar: Peran Penerbit Mahadaya dan Panitia

Di balik keberhasilan acara ini, terdapat kolaborasi antara Penerbit Mahadaya dan Perpustakaan Pusat UGM. Kak Ficky Yusrini, salah satu panitia dari Penerbit Mahadaya, menjelaskan bahwa tujuan utama mereka sangat sederhana, yakni menyebarkan nilai-nilai positif dari pengalaman otentik Pak Setyo kepada khalayak luas. Harapannya, lebih banyak orang dapat belajar untuk tetap bahagia, meski hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Proses persiapan acara ini sendiri cukup panjang dan penuh tantangan, termasuk penundaan jadwal karena padatnya agenda Pak Setyo dan libur Lebaran. Meskipun Yogyakarta memiliki banyak acara literasi yang bisa memecah fokus publik, Kak Ficky mencatat sisi positifnya bahwa diskusi di kota ini cenderung lebih mendalam dan kaya berkat iklim intelektual yang kuat dari para penanya.

Bagi Kak Ficky, buku ini memiliki daya tarik khusus karena kemampuannya untuk diterima oleh semua kalangan. Ia menjelaskan bahwa pesan dalam buku ini relevan bagi siapa saja, mulai dari mahasiswa yang mencari jati diri, pekerja yang menghadapi tekanan karier, hingga orang tua yang bergelut dengan masalah keluarga, bahkan mereka yang sama sekali belum mengenal konsep meditasi. Ini karena masalah hidup bersifat universal, mencakup tema-tema, seperti cinta, uang, dan kehilangan, yang dialami oleh semua orang tanpa memandang usia atau latar belakang. Menurutnya, inti dari kebahagiaan adalah mampu mengatasi segala perbedaan tersebut.

Suasana Santai yang Berkesan dan Meninggalkan Jejak Positif

Walaupun topik diskusinya cukup serius—tentang cara bahagia di tengah kesulitan hidup—suasana acara justru terasa sangat akrab dan santai. Tidak ada batasan yang kaku, bahkan moderator dan penulis sering melontarkan candaan yang membuat semua orang tertawa. Peserta juga bebas menikmati camilan yang disediakan panitia sehingga diskusi terasa seperti berbincang santai bersama teman. Interaksi yang mengalir bebas ini berhasil menciptakan suasana yang nyaman, membuat semua yang datang bisa berbagi dan belajar dengan tenang.

Di akhir acara, suasana menjadi lebih seru dengan adanya pembagian hadiah untuk beberapa penanya yang beruntung dan kuis berhadiah untuk menguji pemahaman peserta. Setelahnya, sebagai bentuk terima kasih, Perpustakaan UGM memberikan merchandise kepada penulis. Selain itu, untuk terus menyebarkan semangat positif dari acara ini, peserta diajak mengikuti challenge penulisan refleksi di Instagram yang akan diundi pada 15 Juli 2025. Bukan hanya bentuk promosi, melainkan mendorong peserta untuk merenungkan dan memahami lebih dalam pesan-pesan yang didapat.

Penutup: Kebahagiaan adalah Pilihan, Bukan Kebetulan

Acara yang menginspirasi ini mengingatkan kita semua bahwa hidup memang terkadang tidak berjalan sesuai rencana. Pasti akan ada tantangan, kehilangan, dan masa-masa sulit. Namun, di tengah semua itu, kita selalu punya kekuatan untuk memilih merasa bahagia. Pilihan ini tidak bergantung pada kejadian di luar kita, tetapi dimulai dari cara kita berpikir, menyadari momen saat ini, dan bersyukur atas hal-hal sederhana yang sering terlewatkan. Pesan utamanya adalah bahwa kebahagiaan bukan hanya tujuan akhir, tetapi sebuah perjalanan; bukan tentang apa yang kita punya, tetapi cara kita melihat dan menghadapi setiap pengalaman. Seperti kata Pak Setyo, “hidup tidak baik-baik saja, tapi kita masih bisa memilih untuk tetap bahagia,” sebuah kalimat sederhana yang terasa kuat nan inspiratif.

Reporter: Ren
Editor: Angel
Fotografer: Vike
Desainer: Abel
Website: Wilsen

Sumber:

Psymag Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Bedah Buku: Tetap Bahagia Meski Hidup Tidak Baik-Baik Saja

 

Share:

You may also like