Filosofi Jawa Kuna untuk Hidup Modern: Review Buku Neng Ning Nung Nang

Dalam lanskap literatur spiritual Indonesia, jarang ada buku yang mampu memadukan kedalaman filosofi, kekayaan kultural, dan relevansi praktis bagi kehidupan modern seperti Neng Ning Nung Nang karya Setyo Hajar Dewantoro. Buku ini hadir di tengah kegamangan manusia modern yang sering terjebak antara pencarian makna dan tekanan dunia material. Ia menawarkan sebuah peta jalan kembali kepada kearifan leluhur Jawa Kuna—bukan sebagai romantisasi masa lalu atau sekadar koleksi mitos, melainkan sebagai pedoman hidup yang logis, teruji, dan membebaskan.

Sejak halaman awal, penulis mengajak kita menatap kembali Pulau Jawa, bukan hanya sebagai pusat politik dan ekonomi Indonesia, tetapi sebagai tanah yang selama ribuan tahun menjadi episentrum peradaban agung. Dari kerajaan-kerajaan seperti Majapahit hingga Singasari, dari candi Borobudur hingga Prambanan, penulis menekankan bahwa kemegahan fisik itu lahir dari fondasi spiritual yang kuat. Namun, ada jarak antara kejayaan masa lalu dan keadaan spiritual masyarakat Jawa kini—jarak yang, menurut penulis, diisi oleh distorsi, penyederhanaan, dan bahkan pengaburan ajaran yang sejati.

Buku ini disusun dengan struktur yang sistematis, dibagi ke dalam tiga belas bab utama yang saling terhubung. Setiap bab memaparkan satu aspek penting dari filosofi dan praktik spiritual Jawa Kuna, dibungkus dengan narasi yang memadukan riset, pengalaman pribadi, dan refleksi mendalam.

  1. Hurip – Menyadari Hidup

Penulis memulai dengan ajakan sederhana namun fundamental: menyadari hidup itu sendiri (Hurip). Dengan menekankan pernapasan alami sebagai pintu masuk kesadaran, ia mengajak pembaca untuk mengakui bahwa hidup adalah anugerah langsung dari Sang Hyang Hurip—Tuhan yang menghidupi. Di sini, penulis mengurai tujuan hidup menurut pandangan Jawa Kuna: bukan sekadar beribadah demi surga imajiner atau menghindari neraka, melainkan berevolusi menjadi manungsa kang nimpuna lan sampurna (manusia yang sejahtera dan sempurna).

  1. Sang Hyang Hurip, Suwung, dan Gusti Kang Murbeng Dumadi

Bab ini menjelaskan konsep ketuhanan dalam filosofi Jawa Kuna, yang jauh dari gambaran Tuhan sebagai sosok pemarah atau penuh pamrih. Tuhan adalah Sang Hyang Hurip (Pemberi Hidup) sekaligus Sang Hyang Suwung (Kekosongan Absolut yang memangku segala yang ada). Penulis dengan jelas membedakan antara manifestasi Tuhan di relung hati (Dewa Ruci) dan realitas-Nya yang tak terbatas. Filosofi ini menolak pemisahan Tuhan dari manusia, menekankan kehadiran-Nya yang cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan.

  1. Dewa Ruci – Guru Sejati di Relung Hati

Narasi Dewa Ruci, salah satu kisah paling populer dalam tradisi Jawa, diangkat kembali dengan tafsir yang segar. Penulis menegaskan bahwa Dewa Ruci adalah pengejawantahan Tuhan dalam diri manusia sebagai Guru Sejati, sumber bimbingan yang autentik. Melalui laku hening atau mangening—menyadari napas alami—seseorang dapat berjumpa dengan Dewa Ruci. Di sini, penulis meluruskan berbagai salah tafsir yang mengaburkan esensi perjumpaan ini, seperti pandangan bahwa harus “mematikan nafsu” secara total atau menjalani ritual berat untuk mencapainya.

  1. Jagat Ageng dan Jagat Alit

Bab ini mengajak pembaca melihat makrokosmos (Jagat Ageng) dan mikrokosmos (Jagat Alit) sebagai cerminan satu sama lain. Kesadaran ini menghubungkan manusia dengan keseluruhan tatanan kosmik, dari bintang-bintang hingga sel tubuh. Penulis menolak pandangan bahwa dunia ini hanyalah ilusi (maya), menegaskan bahwa realitas fisik dan nonfisik sama-sama nyata, meski berada di tingkat keberadaan yang berbeda.

  1. Laku Mangening

Di sinilah inti ajaran Neng Ning Nung Nang diuraikan. Filosofi ini menekankan empat tahapan kesadaran: Neng (menikmati momen), Ning (sadar penuh/jernih), Nung (setia pada tuntunan Gusti di relung hati), dan Nang (meraih kemenangan sejati atau puncak kesadaran). Penulis menggarisbawahi bahwa tanpa praktik keheningan yang konsisten, semua teori spiritual akan berakhir menjadi retorika kosong atau ritual eksotik tanpa dampak nyata bagi pemurnian jiwa.

  1. Kritik terhadap Distorsi dan Ritualisme

Salah satu bagian paling tajam adalah kritik terhadap kecenderungan sebagian praktisi Kejawen modern yang terjebak dalam ritualisme berlebihan atau pencarian supranatural demi kepentingan egoistik. Penulis menegaskan bahwa spiritualitas sejati adalah proses penyaksian langsung (mangerteni kasunyatan), bukan pengumpulan jimat atau mantra tanpa penghayatan.

  1. Filosofi Kehidupan Sehari-hari

Bab-bab akhir menyoroti falsafah praktis orang Jawa seperti nrima ing pandum (menerima bagian dengan lapang hati), sepi ing pamrih rame ing gawe (bekerja dengan ketulusan), dan hamemayu hayuning bawana (memperindah dunia). Penulis memaparkannya bukan sebagai slogan, tetapi sebagai etos hidup yang harus dihidupi secara sadar.

Buku ini bukan sekadar pengulangan istilah atau cerita tradisi Jawa. Penulis membedah konsep-konsep tersebut dengan kerangka berpikir yang logis, memadukan pendekatan rasional-empirik (ngelmu titen) dan pengalaman batin (ngelmu rasa).

Meski berakar pada budaya Jawa Kuna, ajaran yang diurai bersifat universal. Prinsip seperti tanggung jawab penuh atas hidup (ngunduh wohing pakarti) dan kesadaran akan keterhubungan dengan alam sangat relevan di era krisis ekologi, stres, dan alienasi modern.

Penulis berani mengkritik praktik spiritual yang keliru tanpa terjebak pada sikap merendahkan. Kritik diarahkan untuk membuka jalan kembali pada inti ajaran, bukan memutus hubungan dengan tradisi.

Meski memuat konsep filosofis yang dalam, bahasa yang digunakan tetap mengalir dan komunikatif. Sesekali penulis menyelipkan humor atau perbandingan kontekstual, membuat topik berat terasa ringan.

Neng Ning Nung Nang relevan bagi siapa pun yang ingin memahami esensi ajaran Jawa tanpa terjebak mistifikasi berlebihan.

Buku ini juga menjadi pengingat penting bagi generasi muda Jawa dan Nusantara bahwa warisan leluhur bukan hanya tarian, batik, atau candi, tetapi juga sistem pengetahuan dan kesadaran yang dapat membentuk masa depan.

Neng Ning Nung Nang adalah buku yang menantang dan mencerahkan. Ia menantang karena mengajak kita menguji ulang keyakinan dan pemahaman kita akan spiritualitas dan tradisi—bahkan jika itu berarti melepaskan ritual yang selama ini kita anggap sakral namun ternyata menjauhkan kita dari esensi. Ia mencerahkan karena menawarkan jalan praktis dan realistis untuk menghidupi kebijaksanaan leluhur: mulai dari menyadari napas, menghargai hidup, hingga membangun surga yang nyata di bumi.

Share:

You may also like